oleh

Nasib Nelayan di Pulau Terluar Kepri

Anambas (KEPRI)-Kisah Nelayan perbatasan harus menempuh puluhan mil dengan peralatan yang minim demi mencari sesuap rezeki juga bersaing dengan Kapal Pukat Cincin atau Jaring Lingkar (purse seine) adalah jenis jaring Alat penangkapan ikan yang termasuk dalam klasifikasi pancing yang moderen.

Hal ini yang di keluhkan oleh para nelayan lokal perbatasan NKRI Kabupaten Kepulauan Anambas di bumi bertuah (Kayuh Serentak Langkah Sepijak) Provinsi Kepulauan Riau.

Kisah ini di ceritakan salah satu nelayan yang sudah puluhan tahun berkerja sebagai nelayan tangkap tradisional.

Kade (60) tahun atau pak long nama sapaan akrab sehari-hari mengatakan, demi untuk mencukupi kebutuhan ekonomi hidup sehari-hari terpaksa mencari tangkapan ikan menempuh jarak 60 sampai 70 mil dari bibir pantai hanya bermodalkan tali dan mata kail serta pompong 6 GT sampa 7 GT nekat terkatung – katung di laut 5 sampai 7 hari baru bisa berkumpul kembali bersama keluarga tercinta, itupun terkadang hasil yang diperoleh tidak memuaskan,” ucap Kade kepada awak media, Selasa (7/7).

Dari hasil tangkapan yang di peroleh selama 5 sampai 7 hari itu hanya mendapatkan hasil 3 juta hingga 5 juta. Hanya dapat kembali modal aje, ade lah lebih sikit untuk kebutuhan keluarga.

Nelayan kita lokal sampai saat ini tidak maksimal dalam sentuhan tangan pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pusat, bila kita bandingkan dengan kapal dari luar daerah yang datang menangkap ikan di perairan Natuna – Anambas seperti kapal pukat cincin atau jaring lingkar (purse seine) yang menangkap ikan mengunakan alat yang canggih bobot kapalnya pun jauh lebih besar sudah di atas puluhan ton bukan seperti kami nelayan lokal jauh ketinggalan hanya bermodalkan nekat,” keluhnya.

Didi Syahputra selaku sekretaris HNSI Kabupaten Kepulauan Anambas, dalam sambungan selulernya Selasa (7/07) malam membenarkan bahwa nelayan Kabupaten Kepulauan Anambas mengeluhkan turunnya hasil tangkapan setiap tahun. Hal tersebut dikarenakan, selain akibat ilegal fishing oleh Kapal Ikan Asing (KIA) juga faktor banyaknya jumlah kapal di atas 30 GT izin KKP dengan alat tangkap pursen siene beroperasi di laut Anambas.

Sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 71/Permen – KP/2016 Tentang Jalur Penangkapan Ikan dan penempatan alat penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia,”sebutnya.

“Menurut Dedi, Kurangnya pengawasan sehingga banyak kapal-kapal izin KKP melakukan pelanggaran zona tangkap dibawah 12 Mil berakibat turunnya hasil tangkapan nelayan lokal di Kepulauan Anambas.

Untuk itu pemerintah daerah Kabupaten Kepulauan Anambas sungguh – sungguh dalam meningkatkan hasil tangkapan nelayan lokal seperti mendorong nelayan Anambas untuk bersaing dengan nelayan dari luar daerah, baik dari kapasitas armada tangkap, alat penangkapan dan akses modal dan market (pasaran) harus ada kepastian,” ucapnya.

Hari ini persoalan nelayan dari hilir sampai hulu belum mampu di tuntaskan oleh pemerintah daerah, sehingga dirinya meminta Pemda untuk mengevaluasi terkait program perikanan dan memproritaskan sektor perikanan dalam APBD ke depan..

Editor: Kadeni

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed