oleh

Keluarga Manusia Silver Terus Meningkat, Arist Merdeka: Pendekatan Kriminalitas Bukan Solusi

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak berdialog dengan salah seorang Keluarga Manusia Silver di Depok (Sabtu 25/09)

Di Kota Depok dan Tangerang Selatan (Tangsel) ditemukan 200 Keluarga Manusia Silver melibatkan balita dan bayi

Jakarta-Pelibatan anak bayi 8 bulan oleh ibu kandungnya sebagai Bayi Silver di Tangerang Selatan mendapat atensi Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.

Menurut Arist pelibatan bayi sebagai manusia silvel bersama ibunya sebagai alat untul mendapatkan uang dari masyarakat merupakan bentuk kekerasan terhadap anak dan kejahatan kemanusiaan dan merendahkan martabat anak. Pelibatan bayi silver telah mencoreng wajah pemerintahan kota Tangsel.

Seolah-olah pemerintahan Tangsel dan masyarakat tak mampu menjawab masalah sosial baru, apa itu karena pandemi covid 19 atau karena masalah kemiskinana yang tak teratasi?

Oleh sebab itu, munculnya masalah sosial baru ini harus dihentikan dan dicari jalan keluar atau solusi yang berprikemanusiaan, Komnas Perlindungan Anak meminta Salpol PP atau Dinas Sosial Kota Tangsel menanggalkan pendekatan atau penyelesaian melaui pendekatan kriminal.

Arist Merdeka mengajak pemerintahan Tangsel untuk melakukan pendekatan kemanusisan.

Meningkatnya melibatkan anak, balita dan ibu sebagai Keluarga Silver telah menjadi fenomena yang memprihatinkan dan telah menjadi masalah sosial baru di Indonesia.

Depok dan di kota-kota lain ditemukan banyak anak selain anak menjadi dan hidup sebagai ANJAL, Pemulung dan pengemis jalanan saat ini telah banyak muncul masalah sosial bari.

Di Kota Depok saja data terkonfirmasi di temukan 200 manusia Silver yang melibatkan anak Balita, Bayi dan ibu.

Dari data yang dikumpulkan dari berbagai sumber manusia silver, ada banyak bermunculan manusia silver di Depok disebabkan merebaknya pandemi Covid 19. Dimana banyak anggota masyarakat Depok yang semula berprofesi sebagai pemulung, sopir angkot dan pedagang kaki lima terpaksa berpindah profesi sebagai keluarga Manusia Silver.

Menurut Amir Hamza asal Medan, biaya untuk mencat tubuh berwarna Silver dalam satu keluarga Manusia Silver diakui membutuhkan dana Rp.1.000.000 untuk membeli serbuk Silver termasuk minyak goreng atau handbody sebagai campurannya untuk dioleskan dalam zeluruh tubu.

“Saya, dan kedua anak dan istri saya setelah melumuri silver, saya mewajibkan setiap wajah keluarga termasuk anak dan istri saya di beri tanda garis merah diwajah agar masyarakat mengetahui dan mengenalinya bahwa manusia Silver bergaris merah atau Keluarga Manusia Silver adalah masyarakat pencari nafkah bukan pelaku krimimal seperti yang dikenal masyarakat selama ini,” demikian Amir Hamza menjelaskan dan menyampaikan harapannya kepada Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak.

Dari informsi, data dan keterangan, harapan dari keluarga Manusia Silver, Komnas Perlindungan Anak mengajak pemerintah khusus pemerintahan Tangsel dan Kota Depok dan pemerintahan kota-kota lainnya di Indonesia agar tidak melakukan pendekatan kriminalitas untuk menyelesaikannya.

Masalah sosial Kesejahteraan baru ini harus dicari solusi melalui pendekatan kemanusiaan dan akar masalah yang menjadi penyebabnya.

Kemudian dengan maraknya masalah kesejahteraan sosial baru dan demi kepentingan terbaik anak ini Pemerintah wajib mengalokasikan dan diakonia sosial (pelayanan sosial kemanusiaan-red) yang cukup memadai.

Pendekatan Kriminalitas bukan solusi tetapi justru menambah meningkatnya masalah sosial baru anak dan keluarga,” imbuh Arist Merdeka dalam keterangan persnya, Senin (27/9/2021).

Sumber: Art

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed