oleh

Pelindo Tanjungpinang Minta Gubernur Cabut Antigen, Ketua PERMATA-SI: Terlalu Terburu-Buru

Addytia Saputra.

Tanjungpinang (KEPRI)-Ketua Persatuan Mahasiswa Tanjungpinang Se-Indonesia (PERMATA-SI) Addytia Saputra menanggapi terkait pihak Pelindo Kota Tanjungpinang meminta Gubernur Ansar Ahmad untuk mencabut Tes Antigen di Pelabuhan Sri Bintan Pura.

Sebelumnya keberangkatan melalui laut diharuskan menyertakan Surat Tes Antigen dipelabuhan Sri Bintan Pura melalui Surat Edaran (SE) Gubernur mengenai Perjalanan Laut.
Yang awalnya biaya Antigen tersebut Rp150, sekarang turun menjadi Rp85.

Terkait Keterangan Pelindo Tanjungpinang, Ketua Persatuan Mahasiswa Tanjungpinang Se-Indonesia Addytia Saputra, pun ikut berkomentar. Beliau mengatakan Pelindo Tanjungpinang terlalu terburu-buru dalam keterangannya untuk meminta mencabut Kewajiban Tes Antigen di Pelabuhan Sri Bintan Pura.

“Pelindo Tanjungpinang terlalu Terburu-buru, dan yang menjadi alasannya yang kita dengar dari media yaitu karena menurunnya jumlah penumpang di pelabuhan, ini tidak logis” ujar adit.

Ia juga menambahkan Gubernur mengambil keputusan dan mencabut keputusan tersebut bukan sewenang-wenang, penuh pertimbangan dan ditinjau dari berbagai macam aspek terutama aspek kesehatan.

“Pak Gubernur juga pasti punya pertimbangan terkait belum dicabutnya aturan itu, salah satunya mengurangi peluang meningkatnya angka Covid-19 di Kepri,” ungkapnya.

Ketua Permata-Si atau yang sering disapa Adit juga mengatakan dikondisi sekarang sebagai masyarakat juga kita harus mendukung kebijakan pemerintah dan jangan hanya memandang dari satu aspek saja, apalagi berbicara tentang keuntungan.

“Kita sama samalah mendukung kebijakan pemerintah, toh nanti kalau covid sudah hilang kan kita bebas mau kemana mana, kalau meminta Kewajiban Antigen dicabut di Pelabuhan, terus meningkat kasus Covid, siapa yang mau bertanggung jawab, Pelindo? Tanya dan Tutup Adit. (*/Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed